Di tengah hamparan kebun sawit yang rapi bak barisan serdadu kompeni, terlihat gerak-gerak buruh perempuan menaburkan “makanan” bagi pohon-pohon itu agar tetap subur, besar, kokoh, dan menghasilkan tandan buah segar atau TBS.
Tangan-tangan lembut itu bergerak bak menari, menabur pupuk ke kiri dan ke kanan. Namun di balik gerakan yang tampak indah itu ada beban yang tak ringan: 600 kilogram pupuk harus habis ditabur dalam satu hari kerja, dengan upah hanya sekitar Rp130 ribu per hari kerja.
Semangat tetap membara demi dapur yang harus terus mengepul, demi anak-anak yang harus terpenuhi gizinya, kelengkapan sekolahnya, dan biaya pendidikannya. Itulah yang terus terbayang di kepala mereka saat bekerja.
Pagi yang sama
Fajar belum sepenuhnya terang, ia sudah bangun. Menyiapkan bekal secukupnya, memastikan anak-anak sarapan, lalu berjalan menuju kebun. Di tangan ada sarung tangan yang mulai tipis. Di punggung ada karung pupuk yang menunggu diangkat.
Hari itu targetnya bukan lagi 600 kilogram. Mandor menyampaikan kabar yang terdengar seperti berkah: areal ditambah, pupuk ditambah, dan target naik menjadi satu ton. Imbalannya, kata mereka, ada tambahan premi.
Ia hanya mengangguk. Bukan karena yakin akan cukup, melainkan karena menolak bukan pilihan yang mudah. Ada cicilan, ada uang sekolah, ada kebutuhan dapur yang tidak mengenal hari libur.
Tubuh yang dibayar murah
Satu ton pupuk bukan sekadar angka. Itu berarti berpuluh kali mengangkat, membawa, membuka karung, menuang, dan menabur. Itu berarti langkah yang dihitung bukan dengan jarak, melainkan dengan pohon sawit yang harus dilalui satu per satu.
Punggungnya mulai membiasakan nyeri. Tangan yang dulu halus kini kasar oleh gesekan karung, pupuk, dan cuaca. Kakinya mengenal lumpur, akar, dan jarak yang tak pernah benar-benar selesai.
Namun di kantor, angka itu mungkin hanya tampak sebagai capaian produksi. Di rumah, angka itu adalah nasi di meja makan, seragam anak yang layak, buku yang tidak tertinggal, dan harapan bahwa masa depan anak tidak harus berulang seperti masa depan ibunya.
Yang tak terlihat
Yang paling berbahaya justru sakit yang tidak tampak. Nyeri punggung dianggap biasa. Lelah dianggap bagian dari kerja. Batuk, pusing, atau iritasi kulit sering disepelekan karena “nanti juga hilang.”
Padahal pekerjaan pemupukan menempatkan buruh perempuan dalam kontak langsung dengan pupuk dan bahan kimia, sementara alat pelindung diri serta pemeriksaan kesehatan rutin kerap tidak memadai. Buruh perempuan sawit juga sering berstatus buruh harian lepas, dengan upah rendah, ketidakpastian kerja, dan perlindungan sosial yang terbatas.
Tidak ada yang mengukur berapa tahun tubuhnya bisa bertahan. Tidak ada yang menanyakan apa yang terjadi ketika punggungnya tak lagi sanggup menopang karung. Ketika itu terjadi, ia mungkin hanya disebut sudah tidak produktif.
Premi yang menipu
Premi sering dijadikan alasan untuk menaikkan target. Tampak seperti penghargaan, padahal bisa menjadi jebakan: buruh dipaksa bekerja lebih lama dan lebih berat demi tambahan uang yang kecil.
Dengan begitu, yang bertambah bukan hanya pupuk yang ditabur. Yang bertambah adalah jam kerja, risiko cedera, kelelahan, dan utang tubuh yang dibayar oleh masa depan buruh itu sendiri.
Ketika sakit menjadi “biasa”
Lama-kelamaan, nyeri itu tidak lagi disebut sakit. Ia menjadi bagian dari pagi, bagian dari jalan menuju kebun, bagian dari malam sebelum tidur.
Batuk dianggap karena cuaca. Gatal dianggap karena panas. Pusing dianggap karena kurang tidur. Padahal buruh perempuan yang bekerja pada pemupukan dan penyemprotan berisiko terpapar bahan agrokimia, sementara alat pelindung diri, fasilitas pencucian, dan pemeriksaan kesehatan berkala kerap tidak memadai.
Ketika sakit menjadi “biasa,” perusahaan tidak perlu bertanggung jawab. Ketika lelah menjadi “wajar,” negara tidak merasa perlu hadir.
Malam setelah satu ton
Malam itu, ia kembali dengan langkah yang sudah tidak lagi ringan.
Karung pupuk mungkin sudah kosong, tetapi bebannya belum selesai. Beban itu menempel di punggung, merayap ke pinggang, lalu berhenti di tulang belakang yang mulai menolak untuk dilupakan. Ia duduk di ambang pintu, menahan napas, seolah takut jika mengeluh sedikit saja, besok pagi dunia akan menuntut lebih banyak lagi.
Di tangannya masih ada sisa pupuk yang tidak hilang meski sudah dicuci berkali-kali. Bau tajam itu seperti ingin mengingatkan: tubuhmu hari ini dipakai untuk kebun, bukan untuk dirimu sendiri.
Ia menatap telapak tangannya. Dulu halus. Kini kasar, kering, dan penuh luka kecil yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Tangan yang dulu menggendong anak, kini lebih sering menggendong karung pupuk. Tangan yang dulu menyiapkan bekal sekolah, kini menabur harapan di antara barisan pohon sawit.
Anak-anak sedang tidur
Di dalam rumah, anak-anaknya tertidur.
Satu memeluk bantal dengan erat. Satu lagi masih memakai seragam yang belum sempat dilepas karena kelelahan. Di meja ada buku, pensil yang mulai pendek, dan sepatu sekolah yang solnya mulai tipis.
Ia mendekat perlahan. Menyelimuti anaknya yang selimutnya tersingkap. Menyentuh rambutnya dengan ujung jari yang masih terasa berat.
“Besok ibu kerja lagi,” bisiknya, hampir tak terdengar.
Bukan karena ia ingin dipuji. Bukan pula karena ia ingin dikasihani. Ia hanya ingin anak-anaknya bangun pagi, sarapan, lalu berangkat sekolah tanpa merasa kurang apa-apa.
Baginya, satu ton pupuk bukan angka. Satu ton pupuk adalah uang sekolah. Adalah beras di dapur. Adalah obat ketika anak sakit. Adalah cara paling berat untuk mengucapkan, “Ibu sayang kalian.”
Doa yang dibawa ke kebun
Setiap pagi, sebelum berangkat, ia berdoa dengan cara yang sederhana.
Ia berdoa agar jalan ke kebun tidak terlalu licin. Agar karung tidak terlalu berat. Agar cuaca tidak terlalu panas. Agar tangannya kuat. Agar anak-anaknya sehat. Agar dapur tidak kosong. Agar malam ini ia masih bisa pulang.
Doa itu tidak pernah panjang. Cukup beberapa detik, diucapkan sambil membetulkan ikat pinggang dan mengangkat karung pupuk ke punggung.
Lalu ia berjalan.
Menuju kebun yang tidak mengenal lelah. Menuju target yang tidak pernah cukup. Menuju premi yang selalu terasa jauh. Menuju masa depan anak-anak yang harus ia beli dengan keringat, nyeri, dan waktu yang tidak pernah kembali.
Jangan biarkan mereka hilang dalam angka
Perusahaan tidak cukup hanya menaikkan target dan menjanjikan premi. Yang harus dijamin adalah target kerja yang realistis, upah harian yang layak, alat pelindung diri yang memadai, pemeriksaan kesehatan berkala, serta jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan yang benar-benar sampai kepada buruh.
Negara tidak boleh hanya menjadi penonton ketika buruh perempuan menanggung beban yang membuat tubuh mereka rusak sedikit demi sedikit. Pengawasan ketenagakerjaan sektor kelapa sawit perlu memastikan bahwa keselamatan kerja, upah, dan hubungan kerja tidak lagi menjadi defisit yang berulang.
Sawit akan terus tumbuh. Buah akan terus dipanen. Laporan akan terus mencatat tonase, premi, dan target yang tercapai.
Tetapi jangan biarkan perempuan itu hilang di dalam angka. Jangan biarkan nyeri punggungnya hanya menjadi cerita di malam hari. Jangan biarkan tangannya yang gatal hanya dianggap hal biasa. Jangan biarkan anak-anaknya hanya mendapat sisa dari tubuh ibunya yang terus dikuras oleh pekerjaan.
Karena di balik setiap tandan buah segar, ada ibu yang menahan sakit. Di balik setiap karung pupuk, ada harapan yang diangkat dengan punggung yang menekuk. Di balik setiap rupiah upah harian, ada anak yang menunggu di rumah, berharap ibunya pulang dengan selamat.
Ia bukan mesin. Ia bukan angka target. Ia adalah perempuan, ibu, dan pekerja yang berhak hidup layak—bukan hanya bekerja sampai tubuhnya tak mampu lagi.

