ID
Donasi

Luka dari Udara: Cerita Satu Foto tentang Gambut, Air, dan Bencana

Bacaan foto: Dari ketinggian, hutan tropis masih tampak seperti laut hijau. Namun di tengah bingkai, tanah terbelah seperti luka: tanah telanjang kemerahan, kolam-kolam air keruh kehijauan yang dipenuhi tunggul pohon mati, jalan-jalan tanah yang bercabang seperti urat, dan deretan tunas muda di tepi-tepinya. Di kejauhan, sebuah sungai besar mengalir—seolah tak tahu bahwa di hilir sana, airnya kian surut dan keruh.

Membaca Luka dari Udara
Tidak ada api dalam foto ini, tidak ada gergaji mesin, tidak ada asap. Justru karena itu foto ini menakutkan: ia merekam keadaan setelah—setelah pohon ditebang, tanah dikupas, dan air diusir dari rawanya. Pemandangan seperti ini bisa kita jumpai di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan di banyak sudut dunia tropis lain. Sekilas ia tampak seperti “lahan kosong yang siap dibangun”. Padahal yang kita lihat adalah ekosistem gambut yang sedang dibongkar pelan-pelan—dan pembongkaran itulah awal rantai bencana yang pada 2026 ini kembali mengetuk pintu kita.

Rawa yang Sebenarnya
Gambut terbentuk ribuan tahun dari sisa tumbuhan yang mati dalam genangan air dan tidak membusuk sempurna. Ekosistem langka ini hanya menutupi sekitar 3% daratan bumi, namun menyimpan sekitar 30% stok karbon tanah global Indonesia adalah pemilik lahan gambut tropis terluas di dunia, sekitar 13,4 juta hectare yang menyimpan lebih dari 57 gigaton karbon. Dalam keadaan basah, gambut adalah spons bumi: menyerap air di musim hujan, melepaskannya perlahan di musim kemarau, menjaga sungai tetap mengalir dan hutan tetap hidup. Ingatlah metafora ini, karena seluruh bencana di bawahnya bermula dari satu hal: spons yang dikeringkan.

Air yang Pergi
Penghancuran gambut hampir selalu dimulai dengan cara yang sama: kanalkanal drainase digali agar rawa kering dan bisa ditanami atau dikupas isinya. Begitu air pergi, gambut berubah dari spons menjadi bahan bakar. Tanah yang kering mulai terurai, melepaskan karbon, lalu memadat dan ambles (subsidence): pada tahun-tahun awal drainase tanah bisa turun 1–2 meter, dan terus menurun 3–5 sentimeter setiap tahun sesudahnya.  Kolam keruh di tengah foto itu bukanlah tanda gambut sehat; ia tanda spons yang rusak—air tak lagi tersimpan di dalam tanah, melainkan berkumpul di atas luka. Dan karhutla Kalimantan memang drama berulang akibat kegagalan kita melindungi tanah: kerusakan gambut dan drainase kanal memperbesar risiko kebakaran.

2026: Asap yang Kembali 
Foto ini bukan arsip. Pada Agustus 2026, langit Kalimantan kembali berubah kelabu; kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat sejak Juli. Kualitas udara di enam provinsi—Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan sekitarnya—masuk kategori tidak sehat.  Angka-angkanya menjelma manusia: Kementerian Kesehatan mencatat 3.405.489 jiwa terdampak langsung bencana asap karhutla di Kalimantan. Kalimantan Barat mencatat angka tertinggi: 165.747 kasus ISPA . Di Pontianak, kasus ISPA naik 5–10 persen hanya dalam sepekan setelah asap muncul. Di balik angka itu ada tenggorokan yang perih, mata yang pedas, malam-malam yang sesak, dan rumah sakit yang penuh oleh batuk anak-anak. Bencana yang dulu kita kira “musiman” kini telah menjadi kalender yang menakutkan: kebakaran lahan gambut bahkan sudah meledak sejak awal 2026.

Papan Tulis yang Direnggut
Bab paling sunyi dari bencana ini tertulis di sekolah-sekolah. Ketika asap menebal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat mengalihkan pembelajaran SMA/SMK/SLB ke daring selama empat hari mulai 11 Agustus 2026 . Orang tua murid di Pontianak was-was dan meminta sekolah diliburkan karena kualitas udara sangat buruk . DPR bahkan meminta pemerintah mempertimbangkan
libur sekolah sementara. Tetapi “meliburkan” bukan “menyelamatkan”. Anak-anak kehilangan jam belajar, kehilangan bermain, kehilangan masa kecil yang seharusnya dihabiskan di halaman, bukan di balik jendela yang ditutup rapat. Ketika mereka tetap harus
keluar—membantu orang tua, membeli obat, berjalan ke warung—paru-paru mereka yang masih berkembang menghirup partikel yang sama dengan yang membuat angka ISPA melonjak. Setiap musim asap, sesungguhnya kita sedang memotong sepotong masa depan: dari kesehatan paru-paru mereka, dari hak mereka atas udara bersih, dari pendidikan yang terputus berulang kali. Kabut asap
mencuri dua hal sekaligus dari anak-anak Kalbar hari ini: napas dan pelajaran.

Kerontang yang Sudah di Depan Mata
Bencana asap sering menutupi bencana lain yang lebih pelan namun tak kalah ganas: hilangnya air bersih. Hutan rawa gambut yang rusak berarti hilangnya sumber-sumber air; spons yang robek tak lagi menyimpan cadangan bagi musim kemarau. Akibatnya kini telah dirasakan di Kalimantan Barat. Debit Sungai Kapuas menyusut dan mendangkal ekstrem . Pendangkalan itu menekan distribusi air bersih bagi warga Kubu Raya . Di Pontianak, mengecilnya tekanan aliran dari hulu membuat air laut menyusup ke sungai—air yang seharusnya menjadi tumpuan hidup warga berubah payau . Di Desa Sungai Malaya, pemerintah harus menyalurkan 5.000 liter air bersih karena kekeringan.

Tambahkan satu variabel lagi: bumi yang memanas. Gambut yang kering dan terbakar melepaskan karbon yang menaikkan suhu; suhu yang naik memperpanjang kemarau—tahun ini BMKG memprediksi El Nino sangat kuat yang memicu kemarau di Kalbar hingga Oktober 2026 . Lingkaran itu kini menutup sempurna: rawa dikeringkan → karbon lepas → suhu naik → kemarau panjang → sungai-sungai besar Kalbar seperti Kapuas meronta kerontang → warga kehilangan air bersih → lahan kering makin mudah terbakar. Apa yang dahulu hanya peringatan para ilmuwan, hari ini dialami warga yang mengantre jeriken air bersih.

Warisan Luka untuk Masa Depan
Kerusakan ekologis yang ditinggalkan di Kalimantan Barat bukan kerusakan satu musim. Kebakaran pada gambut dalam berpotensi menyebabkan kerusakan ekologis permanen—menurunkan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat untuk puluhan tahun ke depan . Sekitar 2,79 juta hektare gambut Kalimantan telah terdegradasi, makin rentan terbakar dari tahun ke tahun. 

Tanah yang ambles akan berakhir tergenang permanen; hutan rawa yang hilang tak akan kembali bersama orangutan, burung enggang, dan ikan-ikan endemiknya; karbon yang lepas hari ini akan terus memanaskan bumi jauh setelah api padam. Anak-anak Kalbar yang hari ini belajar daring di balik masker akan mewarisi sungai yang lebih dangkal, udara yang lebih panas, dan tanah yang lebih miskin daripada yang kita warisi. Itulah bentuk paling kejam dari bencana ekologis: korbannya belum lahir ketika penyebabnya kita putuskan hari ini.

Tunas di Tepi Luka
Namun foto ini tidak hanya memuat luka. Di sisi kiri dan bawahnya tampak deretan tunas muda ditanam rapi—isyarat bahwa pemulihan masih dicoba: membasahkan kembali gambut (rewetting), menanam jenis yang ramah air (paludiculture), dan revegetasi. Tetapi pemulihan menuntut lebih dari sekadar menanam: ia menuntut kanal dibendung, tata kelola ditegakkan, dan keputusan ekonomi yang berhenti mengeringkan yang seharusnya basah. Menghancurkan gambut hanya butuh satu musim kemarau; memulihkannya butuh puluhan tahun —dan sebagian luka tak akan pulih sama sekali.

Penutup: Foto sebagai Cermin
Kita sering menyebut banjir, kekeringan, dan kabut asap sebagai “bencana alam”. Foto ini, bersama musim asap 2026, membantah sebutan itu. Tidak ada yang alamiah dari 3,4 juta jiwa yang terdampak asap , dari 165 ribu warga Kalbar yang terjangkit ISPA , dari anak-anak yang sekolahnya dipindah ke layar daring , dari Sungai Kapuas yang mendangkal dan terintrusi air laut . Semua itu adalah bencana buatan manusia—hasil dari keputusan untuk mengeringkan rawa dan membuka hutan.

Dari udara, luka itu tampak kecil: sebidang warna pucat di tengah hijau yang luas. Tetapi dari tanah, luka itulah yang menentukan udara apa yang dihirup anak-anak kita, air apa yang kita minum, dan sungai mana yang akan kering lebih dahulu. Satu foto ini, pada akhirnya, adalah cermin: ia tidak hanya menunjukkan apa yang telah kita lakukan pada bumi, melainkan apa yang sedang kita lakukan pada diri kita sendiri—dan pada generasi yang belum sempat menolak warisan kita.

Bagikan artikel